Total Pageviews

Tuesday, August 27, 2013

Selamat Datang Mahasiswa Baru STAI Persis Bandung


Setelah enam tahun menimba ilmu pengetahuan di jenjang sekolah dasar, tiga tahun di jenjang menengah pertama, dan juga tiga tahun di tingkat menengah atas. Kini tiba waktunya menapakkan jejak pencarian ilmu kalian pada jenjang yang lebih tinggi, yaitu jenjang perguruan tinggi.

Pengumuman kelulusan ketika SMA/ Muallimin memang merupakan saat yang paling mendebarkan. Tertanam pasti dalam benak kita rencana – rencana lanjutan setelah kita menyelesaikan pendidikan di jenjang pendidikan menengah atas. Apakah jejak langkah kita akan diteruskan untuk mencari pekerjaan ataukah meneruskan mencari pengetahuan baru? Satu keputusan yang mungkin sangat berat untuk dipilih.

Ambillah contoh ketika memilih untuk meneruskan mencari pengetahuan bau di jenjang yang baru pula. Kita masih dihadapkan pada pilihan kemana kita akan melangkahkan kaki kita selanjutnya. Dengan segala pertimbangan mulai dari apa yang kita minati, potensi apa yang kita miliki, dan tentu saja pilihan orangtua yang menginginkan kita duduk di bangku kuliah Perguruan Tinggi mana. Terasa sulit memang jika kita belum memiliki tujuan yang pasti, namun itu semua akan menentukan akan menjadi apa kita kelak.

Banyaknya lembaga pendidikan perguruan tinggi yang memberikan penawaran menggiurkan dengan fakultas – fakultas dan jurusan – jurusan yang disediakan, juga fasilitas – fasilitas dari mulai yang memadai hingga lengkap untuk mendukung studi apa yang kita ambil kelak. Memang itu menjadi satu bahan pertimbangan juga bagi kita. Namun jika kita sudah menetapkan pilihan pada satu perguruan tinggi, tentu tawaran itu akan terasa tidak seberapa.

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Persatuan Islam Bandung, sebuah perguruan tinggi agama islam swasta yang terletak di kawasan pendidikan Persatuan Islam Ciganitri memang bukan Perguruan Tinggi terkenal, apalagi favorit. Dari segi fasilitas juga bisa disebut belum memadai meskipun dari tahun ke tahun ada perkembangan positif. Gedung perkuliahan yang tidak sebesar dan semewah perguruan tinggi lainnya, lokasi yang sedikit sulit dijangkau, dan banyak hal – hal lainnya yang bisa menjadikan kita membuat keriput kecil dikening sebelah kiri atau di sebelah kanan. Namun dengan segala kekurangan yang ada, STAI Persis memiliki kelebihan yang tidak didapati di perguruan tinggi lain, yaitu rasa kekeluargaan yang sangat terasa dan juga lingkungan yang memudahkan kita cepat beradaptasi dengan iklim pendidikan baru (setidaknya itu yang dirasakan penulis).

Kini tiba tahun ajaran baru, datang pula mahasiswa – mahasiswi baru, dengan suasana dan atmosfir yang mungkin juga akan menjadi baru. Ide – ide segar untuk lebih menghidupkan kampus perjuangan ini. Ideologi – ideologi baru akan segera dicetak untuk menggebrak dunia perkuliahan.

Selamat datang para Mahasiswa Baru yang akan meneruskan perjuangan Mahasiswa Lama. Jadilah seorang yang besar meski datang dari kampus yang kecil. Sekali lagi, selamat bergabung, selamat datang dan selamat menjadi anggota baru Keluarga Besar Mahasiswa STAI Persis Bandung.

Thursday, August 22, 2013

Fly to Found the Truth



Teteeettt.... gubrak.... suara dua buah motor bertabrakan kemudian jatuh ke tanah.
“aduh, bapak kenapa? Main tabrak aja seenaknya!”
“kamu yang salah, kenapa bawa motor pelan ke tengah jalan!”
“saya mau belok pak! Bapak yang salah bawa motor ngebut, udah tau jalan sempit!”
“eeeh kamu yah,ngelawan ke orang yang lebih tua dari kamu, udah tau kamu yang salah!”
“bapak jangan mentang-mentang lebih tua dari saya bisa seenaknya nyalahin saya dong!”
“saya lagi buru-buru, istri saya lagi sakit dirumah! Kamu ngehalangin jalan saya!”
“mana saya tau istri bapak lagi sakit, saya bukan anak bapak! Tetep aja bapak jangan seenaknya bawa motor dong!”
Tidak lama kemudian, seorang warga menghampiri mereka berdua lalu melerai pertikaian mereka.
Itulah satu gambaran persoalan yang sering terjadi dikalangan masyarakat kita. Tentang persoalan mengenai kebenaran yang sederhana namun dibuat rumit karena adanya faktor rasa berkuasa karena hal tertentu.
Dalam contoh kasus diatas, pencarian “mana yang benar” sebenarnya mudah ketika kita melihat secara subjektif. Namun jika kita melihat seperti itu, kita akan keliru dan cenderung akan memihak. Karenanya, dalam menilai dan mencari kebenaran kita harus bersikat objektif dalam analisa yang kita lakukan mengenai kebenaran itu sendiri.
Terlepas dari contoh kasus diatas, sekarang kita coba mulai fokus pada kebenaran. Jika kita berbicara mengenai kebenaran dan mencari definisi yang mutlak, maka kita akan dihadapkan pada pilihan mengenai definisi mana yang lebih tepat karena setiap orang pasti memiliki perspektif yang berbeda mengenai kebenaran. Seperti definisi kebenaran menurut kaum pragmatis, mereka mengatakan bahwa kebenaran suatu pernyataan itu diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Berbeda dengan kaum penganut teori korespondensi, karena mereka meyakini bahwa kebenaran suatu pernyataan itu jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Dari pernyataan-pernyataan tersebut, pantas jika lahir istilah bahwa “kebenaran itu bersifat relatif”. Namun, seringkali banyak orang mengatakan relatif disana adalah karena manusia tidak mengetahui hakikat kebenaran dan tidak sedikit yang pada akhirnya tidak percaya pada kebenaran. Tapi yang saya sikapi dari istilah tersebut adalah bahwa manusia memiliki kapasitas pengetahuan yang berbeda dan keahlian pengetahuan yang berbeda satu sama lain hingga seringkali memunculkan banyak perbedaan pendapat.
Jadi, bisa dikatakan bahwa penilaian tentang kebenaran oleh seorang manusia itu tidak terlepas dari pengetahuan yang dimilikinya. Berbicara sedikit tentang pengetahuan, pertama kita berbicara tentang fungsi dari ilmu pengetahuan. Fungsi dari ilmu pengetahuan itu secara garis besarnya ada empat, yaitu:
1.      Deskriptif; untuk mampu menggambarkan suatu objek sehingga dapat dipelajari.
2.      Pengembangan; untuk mengembangkan pikir agar mudah mengambil kesimpulan dari inti suatu objek kajian.
3.      Prediksi; untuk mencari pencegah agar hal yang terburuk tidak terjadi.
4.      Kontrol; berfungsi ketika aspek 1, 2, dan 3 digunakan.
Itu adalah fungsi dari ilmu pengetahuan. Kedua, tentang sumber pengetahuan. Ada yang menyebutkan bahwa sumber pengetahuan adalah logika, matematika, bahasa, dan sistematika. Namun adapula yang mengatakan bahwa sumber dari pengetahuan adalah rasio, empirik (pengalaman), intuisi, dan wahyu.
Nah, dari pengetahuan yang dimiliki seorang manusia pun akan menentukan sejauh mana pengetahuannya dalam menyikapi suatu objek permasalahan. pengetahuan itupun terbagi pada empat, yaitu:
1.      Pengetahuan sederhana
Pengetahuan dengan pola pikir sederhana yang hanya berdasar indrawi. Ini merupakan awal dari semua pengetahuan.
2.      Pengetahuan ilmiah
Pengetahuan dengan sistem pola pikir yang sistematis, faktual terhadap suatu objek tertentu.
3.      Pengetahuan filsafat
Pengetahuan dengan pola pikir yang radikal, kritis, logis, reflektif dan integral.
4.      Pengetahuan wahyu
Pengetahuan yang didapat dari wahyu yang dikirimkan kepada nabi-nabi yang diutus oleh Sang Maha Pemilik Segala.
Jadi jelas bahwa kebenaran itu sangat erat kaitannya dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Namun tidak hanya sampai situ saja. Manusia merupakan makhluk yang bukan hanya dikaruniai pikiran, manusia pun memiliki perasaan dan ego dalam dirinya. Satu hal yang sering menjadi pembuyar dalam kebenaran adalah munculnya ego seseorang yang disebabkan oleh entah itu jabatan, entah itu kekayaan ataupun status sosial. Salah satu contohnya adalah contoh percakapan antara pemuda yang hendak berbelok dan bapak-bapak yang menabrak si pemuda itu karena terburu-buru hendak pulang melihat kondisi istrinya yang sedang sakit. Contoh konkret lain dari kebenaran yang dibuyarkan oleh ego seseorang adalah sebagai berikut:
Nisa merupakan anak dari keturunan keluarga sederhana, dan Christie merupakan keturunan dari pemilik sekolah tersebut. Mereka berada pada satu tingkatan sama dan juga satu kelas. Satu waktu ketika Christie disuruh untuk menjelaskan materi dan menyelesaikan soal fisika oleh gurunya, ternyata terdapat kesalahan pada penjelasannya lalu Nisa mencoba membetulkan apa yang salah dari penjelasan Christie. Karena merasa tidak enak merasa digurui oleh anak yang status ekonominya lebih rendah darinya, Christie marah sembari mengeluarkan cacian dan makian kepada Nisa meskipun sebenarnya Christie pun tahu bahwa penjelasannya itu salah.
Itulah contoh konkret kebenaran yang dibuyarkan oleh ego seseorang. Disinilah kita harus mengambil banyak pelajaran bahwa kebenaran yang murni dari manusia itu sangat langka dan sangat sulit didapatkan. Oleh karenanya, kita akan selalu terbang melayang di dunia fana ini untuk mencari kebenaran yang murni dari manusia.

Berjalan mengikuti hembus angin
Melayang kepakkan sayap yang rapuh
Ku terbuai dalam mimpi yang hanyutkanku
Tentang cinta dan apa yang aku yakini tentang hidup
Satu harap tersirat dalam kalbu yang terdalam
Teteskan air mata dan lenyapkan benci di dada
Berharap suatu hari dapat kutemukan kebenaran untuk semua