Total Pageviews

Thursday, August 22, 2013

Fly to Found the Truth



Teteeettt.... gubrak.... suara dua buah motor bertabrakan kemudian jatuh ke tanah.
“aduh, bapak kenapa? Main tabrak aja seenaknya!”
“kamu yang salah, kenapa bawa motor pelan ke tengah jalan!”
“saya mau belok pak! Bapak yang salah bawa motor ngebut, udah tau jalan sempit!”
“eeeh kamu yah,ngelawan ke orang yang lebih tua dari kamu, udah tau kamu yang salah!”
“bapak jangan mentang-mentang lebih tua dari saya bisa seenaknya nyalahin saya dong!”
“saya lagi buru-buru, istri saya lagi sakit dirumah! Kamu ngehalangin jalan saya!”
“mana saya tau istri bapak lagi sakit, saya bukan anak bapak! Tetep aja bapak jangan seenaknya bawa motor dong!”
Tidak lama kemudian, seorang warga menghampiri mereka berdua lalu melerai pertikaian mereka.
Itulah satu gambaran persoalan yang sering terjadi dikalangan masyarakat kita. Tentang persoalan mengenai kebenaran yang sederhana namun dibuat rumit karena adanya faktor rasa berkuasa karena hal tertentu.
Dalam contoh kasus diatas, pencarian “mana yang benar” sebenarnya mudah ketika kita melihat secara subjektif. Namun jika kita melihat seperti itu, kita akan keliru dan cenderung akan memihak. Karenanya, dalam menilai dan mencari kebenaran kita harus bersikat objektif dalam analisa yang kita lakukan mengenai kebenaran itu sendiri.
Terlepas dari contoh kasus diatas, sekarang kita coba mulai fokus pada kebenaran. Jika kita berbicara mengenai kebenaran dan mencari definisi yang mutlak, maka kita akan dihadapkan pada pilihan mengenai definisi mana yang lebih tepat karena setiap orang pasti memiliki perspektif yang berbeda mengenai kebenaran. Seperti definisi kebenaran menurut kaum pragmatis, mereka mengatakan bahwa kebenaran suatu pernyataan itu diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Berbeda dengan kaum penganut teori korespondensi, karena mereka meyakini bahwa kebenaran suatu pernyataan itu jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Dari pernyataan-pernyataan tersebut, pantas jika lahir istilah bahwa “kebenaran itu bersifat relatif”. Namun, seringkali banyak orang mengatakan relatif disana adalah karena manusia tidak mengetahui hakikat kebenaran dan tidak sedikit yang pada akhirnya tidak percaya pada kebenaran. Tapi yang saya sikapi dari istilah tersebut adalah bahwa manusia memiliki kapasitas pengetahuan yang berbeda dan keahlian pengetahuan yang berbeda satu sama lain hingga seringkali memunculkan banyak perbedaan pendapat.
Jadi, bisa dikatakan bahwa penilaian tentang kebenaran oleh seorang manusia itu tidak terlepas dari pengetahuan yang dimilikinya. Berbicara sedikit tentang pengetahuan, pertama kita berbicara tentang fungsi dari ilmu pengetahuan. Fungsi dari ilmu pengetahuan itu secara garis besarnya ada empat, yaitu:
1.      Deskriptif; untuk mampu menggambarkan suatu objek sehingga dapat dipelajari.
2.      Pengembangan; untuk mengembangkan pikir agar mudah mengambil kesimpulan dari inti suatu objek kajian.
3.      Prediksi; untuk mencari pencegah agar hal yang terburuk tidak terjadi.
4.      Kontrol; berfungsi ketika aspek 1, 2, dan 3 digunakan.
Itu adalah fungsi dari ilmu pengetahuan. Kedua, tentang sumber pengetahuan. Ada yang menyebutkan bahwa sumber pengetahuan adalah logika, matematika, bahasa, dan sistematika. Namun adapula yang mengatakan bahwa sumber dari pengetahuan adalah rasio, empirik (pengalaman), intuisi, dan wahyu.
Nah, dari pengetahuan yang dimiliki seorang manusia pun akan menentukan sejauh mana pengetahuannya dalam menyikapi suatu objek permasalahan. pengetahuan itupun terbagi pada empat, yaitu:
1.      Pengetahuan sederhana
Pengetahuan dengan pola pikir sederhana yang hanya berdasar indrawi. Ini merupakan awal dari semua pengetahuan.
2.      Pengetahuan ilmiah
Pengetahuan dengan sistem pola pikir yang sistematis, faktual terhadap suatu objek tertentu.
3.      Pengetahuan filsafat
Pengetahuan dengan pola pikir yang radikal, kritis, logis, reflektif dan integral.
4.      Pengetahuan wahyu
Pengetahuan yang didapat dari wahyu yang dikirimkan kepada nabi-nabi yang diutus oleh Sang Maha Pemilik Segala.
Jadi jelas bahwa kebenaran itu sangat erat kaitannya dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Namun tidak hanya sampai situ saja. Manusia merupakan makhluk yang bukan hanya dikaruniai pikiran, manusia pun memiliki perasaan dan ego dalam dirinya. Satu hal yang sering menjadi pembuyar dalam kebenaran adalah munculnya ego seseorang yang disebabkan oleh entah itu jabatan, entah itu kekayaan ataupun status sosial. Salah satu contohnya adalah contoh percakapan antara pemuda yang hendak berbelok dan bapak-bapak yang menabrak si pemuda itu karena terburu-buru hendak pulang melihat kondisi istrinya yang sedang sakit. Contoh konkret lain dari kebenaran yang dibuyarkan oleh ego seseorang adalah sebagai berikut:
Nisa merupakan anak dari keturunan keluarga sederhana, dan Christie merupakan keturunan dari pemilik sekolah tersebut. Mereka berada pada satu tingkatan sama dan juga satu kelas. Satu waktu ketika Christie disuruh untuk menjelaskan materi dan menyelesaikan soal fisika oleh gurunya, ternyata terdapat kesalahan pada penjelasannya lalu Nisa mencoba membetulkan apa yang salah dari penjelasan Christie. Karena merasa tidak enak merasa digurui oleh anak yang status ekonominya lebih rendah darinya, Christie marah sembari mengeluarkan cacian dan makian kepada Nisa meskipun sebenarnya Christie pun tahu bahwa penjelasannya itu salah.
Itulah contoh konkret kebenaran yang dibuyarkan oleh ego seseorang. Disinilah kita harus mengambil banyak pelajaran bahwa kebenaran yang murni dari manusia itu sangat langka dan sangat sulit didapatkan. Oleh karenanya, kita akan selalu terbang melayang di dunia fana ini untuk mencari kebenaran yang murni dari manusia.

Berjalan mengikuti hembus angin
Melayang kepakkan sayap yang rapuh
Ku terbuai dalam mimpi yang hanyutkanku
Tentang cinta dan apa yang aku yakini tentang hidup
Satu harap tersirat dalam kalbu yang terdalam
Teteskan air mata dan lenyapkan benci di dada
Berharap suatu hari dapat kutemukan kebenaran untuk semua

No comments:

Post a Comment