Teteeettt....
gubrak.... suara dua buah motor bertabrakan kemudian jatuh ke tanah.
“aduh,
bapak kenapa? Main tabrak aja seenaknya!”
“kamu
yang salah, kenapa bawa motor pelan ke tengah jalan!”
“saya
mau belok pak! Bapak yang salah bawa motor ngebut, udah tau jalan sempit!”
“eeeh
kamu yah,ngelawan ke orang yang lebih tua dari kamu, udah tau kamu yang salah!”
“bapak
jangan mentang-mentang lebih tua dari saya bisa seenaknya nyalahin saya dong!”
“saya
lagi buru-buru, istri saya lagi sakit dirumah! Kamu ngehalangin jalan saya!”
“mana
saya tau istri bapak lagi sakit, saya bukan anak bapak! Tetep aja bapak jangan
seenaknya bawa motor dong!”
Tidak
lama kemudian, seorang warga menghampiri mereka berdua lalu melerai pertikaian
mereka.
Itulah
satu gambaran persoalan yang sering terjadi dikalangan masyarakat kita. Tentang
persoalan mengenai kebenaran yang sederhana namun dibuat rumit karena adanya
faktor rasa berkuasa karena hal tertentu.
Dalam
contoh kasus diatas, pencarian “mana yang benar” sebenarnya mudah ketika kita
melihat secara subjektif. Namun jika kita melihat seperti itu, kita akan keliru
dan cenderung akan memihak. Karenanya, dalam menilai dan mencari kebenaran kita
harus bersikat objektif dalam analisa yang kita lakukan mengenai kebenaran itu
sendiri.
Terlepas
dari contoh kasus diatas, sekarang kita coba mulai fokus pada kebenaran. Jika
kita berbicara mengenai kebenaran dan mencari definisi yang mutlak, maka kita
akan dihadapkan pada pilihan mengenai definisi mana yang lebih tepat karena
setiap orang pasti memiliki perspektif yang berbeda mengenai kebenaran. Seperti
definisi kebenaran menurut kaum pragmatis, mereka mengatakan bahwa kebenaran
suatu pernyataan itu diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat
fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Berbeda dengan kaum penganut
teori korespondensi, karena mereka meyakini bahwa kebenaran suatu pernyataan
itu jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi
(berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Dari
pernyataan-pernyataan tersebut, pantas jika lahir istilah bahwa “kebenaran itu
bersifat relatif”. Namun, seringkali banyak orang mengatakan relatif disana
adalah karena manusia tidak mengetahui hakikat kebenaran dan tidak sedikit yang
pada akhirnya tidak percaya pada kebenaran. Tapi yang saya sikapi dari istilah
tersebut adalah bahwa manusia memiliki kapasitas pengetahuan yang berbeda dan
keahlian pengetahuan yang berbeda satu sama lain hingga seringkali memunculkan
banyak perbedaan pendapat.
Jadi,
bisa dikatakan bahwa penilaian tentang kebenaran oleh seorang manusia itu tidak
terlepas dari pengetahuan yang dimilikinya. Berbicara sedikit tentang
pengetahuan, pertama kita berbicara tentang fungsi dari ilmu pengetahuan.
Fungsi dari ilmu pengetahuan itu secara garis besarnya ada empat, yaitu:
1.
Deskriptif;
untuk mampu menggambarkan suatu objek sehingga dapat dipelajari.
2.
Pengembangan;
untuk mengembangkan pikir agar mudah mengambil kesimpulan dari inti suatu objek
kajian.
3.
Prediksi;
untuk mencari pencegah agar hal yang terburuk tidak terjadi.
4.
Kontrol;
berfungsi ketika aspek 1, 2, dan 3 digunakan.
Itu
adalah fungsi dari ilmu pengetahuan. Kedua, tentang sumber pengetahuan. Ada
yang menyebutkan bahwa sumber pengetahuan adalah logika, matematika, bahasa,
dan sistematika. Namun adapula yang mengatakan bahwa sumber dari pengetahuan
adalah rasio, empirik (pengalaman), intuisi, dan wahyu.
Nah,
dari pengetahuan yang dimiliki seorang manusia pun akan menentukan sejauh mana
pengetahuannya dalam menyikapi suatu objek permasalahan. pengetahuan itupun
terbagi pada empat, yaitu:
1.
Pengetahuan
sederhana
Pengetahuan dengan pola pikir sederhana yang hanya berdasar indrawi.
Ini merupakan awal dari semua pengetahuan.
2.
Pengetahuan
ilmiah
Pengetahuan dengan sistem pola pikir yang sistematis, faktual
terhadap suatu objek tertentu.
3.
Pengetahuan
filsafat
Pengetahuan dengan pola pikir yang radikal, kritis, logis,
reflektif dan integral.
4.
Pengetahuan
wahyu
Pengetahuan yang didapat dari wahyu yang dikirimkan kepada
nabi-nabi yang diutus oleh Sang Maha Pemilik Segala.
Jadi
jelas bahwa kebenaran itu sangat erat kaitannya dengan pengetahuan yang
dimiliki seseorang. Namun tidak hanya sampai situ saja. Manusia merupakan
makhluk yang bukan hanya dikaruniai pikiran, manusia pun memiliki perasaan dan
ego dalam dirinya. Satu hal yang sering menjadi pembuyar dalam kebenaran adalah
munculnya ego seseorang yang disebabkan oleh entah itu jabatan, entah itu
kekayaan ataupun status sosial. Salah satu contohnya adalah contoh percakapan
antara pemuda yang hendak berbelok dan bapak-bapak yang menabrak si pemuda itu
karena terburu-buru hendak pulang melihat kondisi istrinya yang sedang sakit. Contoh
konkret lain dari kebenaran yang dibuyarkan oleh ego seseorang adalah sebagai
berikut:
Nisa
merupakan anak dari keturunan keluarga sederhana, dan Christie merupakan
keturunan dari pemilik sekolah tersebut. Mereka berada pada satu tingkatan sama
dan juga satu kelas. Satu waktu ketika Christie disuruh untuk menjelaskan
materi dan menyelesaikan soal fisika oleh gurunya, ternyata terdapat kesalahan
pada penjelasannya lalu Nisa mencoba membetulkan apa yang salah dari penjelasan
Christie. Karena merasa tidak enak merasa digurui oleh anak yang status
ekonominya lebih rendah darinya, Christie marah sembari mengeluarkan cacian dan
makian kepada Nisa meskipun sebenarnya Christie pun tahu bahwa penjelasannya
itu salah.
Itulah
contoh konkret kebenaran yang dibuyarkan oleh ego seseorang. Disinilah kita
harus mengambil banyak pelajaran bahwa kebenaran yang murni dari manusia itu
sangat langka dan sangat sulit didapatkan. Oleh karenanya, kita akan selalu
terbang melayang di dunia fana ini untuk mencari kebenaran yang murni dari
manusia.
Berjalan
mengikuti hembus angin
Melayang
kepakkan sayap yang rapuh
Ku
terbuai dalam mimpi yang hanyutkanku
Tentang
cinta dan apa yang aku yakini tentang hidup
Satu
harap tersirat dalam kalbu yang terdalam
Teteskan
air mata dan lenyapkan benci di dada
Berharap
suatu hari dapat kutemukan kebenaran untuk semua
No comments:
Post a Comment